Minggu, 07 Juli 2013

Beginner, Masa kecilku



Aku terlahir sebagai seorang keturunan chinise. Aku merupakan anak bungsu yang awalnya lima bersaudara, namun kakak kedua ku sudah lebih dahulu pergi kepada yang kuasa. Ia meninggal ketika di lahirkan. Kami semua perempuan.
Kata orangtuaku dulu aku adalah anak kembar. Ketika mama mengandung aku, mama secara rutin membawaku pergi ke dokter untuk di periksakan kandungannya. Selama mama mengandungku dokter yang memeriksa mamaku berkata bahwa mama mengandung anak kembar. Begitu pula ketika mama melakukan pijat perut ketika hamil aku, sang pemijat selalu berkata kalau mama akan melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan. Papa dan nenek ku sangat senang karena mengetahui akhirnya mama akan melahirkan seorang anak laki-laki. Namun keanehan terjadi ketika mama melahirkanku. Mama tidak melahirkan anak kembar seperti yang diprediksi dan dikatakan tukang pijat. Mama hanya melahirkan aku. Beberapa saat setelah aku dilahirkan ada seorang laki-laki paruh baya yang mengatakan selamat karena telah melahirkan anak kembar pengantin, akan tetapi dia berkata akan membawa salah satu anak kembar (anak laki-laki) untuk ia asuh karena dia berkata bahwa mama tidak akan bisa merawat anak laki-laki tersebut. Keluarga ku kebingungan terhadap apa yang dikatakan oleh laki-laki tersebut dan tidak menanggapinya.
Setelah mama selesai melahirkan dan pulang ke rumah, mama membesarkan ku layaknya kakak-kakak ku yang lain. tidak ada keanehan dalam pertumbuhanku. namun setelah aku berusia tiga tahun, keanehan kembali terjadi. Pada malam-malam tertentu aku sering kali terlihat berbarengan di dua tempat berbeda. awalnya hanya ibu dan kakak tertua ku yang sering mendapati aku di dua tempat berbeda. namun seiring aku bertambah besar aku lebih sering ditemui oleh keluargaku yang lain di dua tempat berbeda. Aku pun sering berbicara dan bermain sendiri, melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh orang lain (memiliki indra ke6 seperti yang dikatankan oleh kebanyakan orang), melakukan sholat magrib yang menurut keluarga ku tak pernah ada yang mengajarkannya karena di dalam keluarga ku tidak ada yang beragama islam, dan pergi ke sudut ruangan. Aku merasa aku memang memiliki seorang saudara laki-laki sebayaku dan aku memang merasakan dia ada seperti halnya aku yang nyata, namun aku bingung karena tidak ada orang yang dapat melihat saudara kembarku tersebut.
Seiring aku bertambah usia dan mulai memasuki sekolah, aku mulai mengerti dengan keadaan sekitar dan mengerti bahwa aku dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain. Awalnya aku hanya sering bermaik dengan saudara laki-laki ku yang sering ku panggil dengan sebutan 'Aa' (kakak laki-laki atas permintaannya) ia menjelaskan dan mengajarkan begitu banyak tentang kehidupannya dan tentang apa yang diajarkannya oleh orang tua asuhnya yang merupakan seorang laki-laki tua yang selalu memakai sorban putih. Dia mengajarkan banyak hal padaku ia mengajariku agamanya yaitu agama islam (yang merupakan agama yang dilarang oleh keluargaku), karenanya aku mengerti agama, karenanya aku rajin sholat, ia pun sering bercerita apa saja kepadaku, mengajariku sholat, menemani hari-hariku sehingga aku seolah-olah memiliki kehidupan sendiri yang diciptakan oleh diriku sendiri bagi keluargaku. Aku tidak memiliki banyak teman, aku tumbuh sebagai pribadi yang tertutup dan pendiam. Baik di masyarakat sekitar maupun didalam lingkungan keluargaku sendiri.Orang tua dan teman-teman sekolah ku selalu menganggap ku anak yang aneh karena sering berbicara sendiri dan dapat mengetahui sesuatu yang disembunyikan dariku. Namun dari keseluruhan saudara perempuanku, aku merupakan anak kesayangan oleh mamaku, aku pun di rumah menjadi anak yang tidak banyak bicara, rajin, dan selalu menuruti perkataan orang tuaku (itu pun merupakan salah satu yang diajarkan saudara laki-lakiku padaku).
Aku merasa sangat nyaman dan tidak terganggu oleh orang-orang sekitar yang selalu menghindariku dan menganggapku anak aneh. Hingga pada suatu hari orang tua ku yang merupakan penganut agama entah konghuchu atau buddha, kedatangan tamu dari negri china. Seingatku mereka berjumlah enam orang, empat orang wanita dan dua orang laki-laki. Mereka duduk di ruang tamu rumahku, berbincang-bincang (menggunakan bahasa mandarin sehingga aku tidak mengerti apa yang di perbincangkannya)  dengan orang tua ku dan beberapa teman orang tuaku pun datang kerumahku. Rumahku menjadi sangat ramai. Tiba-tiba mamaku memanggilku dari dalam kamar untuk bertemu dengan mereka, aku pun menurut dan menemui mereka dan mereka berbicara padaku menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti. Lalu orang tuaku mengajakku kekamar Kwan Im tempat keluargaku biasanya melakukan ibadah di dpan patung dan tulisan. Disana aku disuruh orang tuaku untuk mengikuti dan mengingat perkataan yang diucapkan oleh orang asing tersebut. Akupun yang baru berusia 8th mengikutinya. Mereka semacam melakukan ritual. Setelah beberapa saat ritual yang cukup lama itu pun selesai dan orang tuaku menjelaskan bahwa kini aku sudah mengikuti agama buddha. Aku yang bingung dan tak mengerti mengenai apa yang sudah aku lakukan cuma mengiyakan begitu saja perkataan orang tuaku.
Setelah melakukan ritual itu, para orang asing itupun pergi, entah pergi kemana.Beberapa hari berlalu, aku mulai bingung mengapa saudara laki-lakiku jarang terlihat dan terkesan menjauhiku. Ia hanya mengawasiku dari jauh, lebih dari satu minggu ia bersikap seperti itu padaku. Saat aku mulai bingung dan kesepian, aku menghampirinya lalu bertanya padanya mengapa ia pergi meninggalkanku. Ia hanya tersenyum padaku dan bertanya padaku mengenai keyakinanku pada agama. Dengan bingung aku menjawab aku beragama buddha seperti yang orang tuaku bilang, lalu ia pergi meninggalkanku tanpa berkata apa-apa. dengan bingung akku termenung menatap tempat ia pergi.
Ketika di sekolah, tiba saat pembelajaran mata pelajaran agama. Para murid disuruh berbaris sesuai agama masing-masing. Teman-temanku masing-masing membuat barisan sesuai agama. ada yang beragama islam, kristen, buddha, katolik, dan hindu. Masing-masing sudah memiliki barisan hanya aku yang belum masuk kebarisan. Ibu guru yang melihatku bingung melihat barisan bertanya padaku apa agamaku dan menyuruhku masuk kedalam barisan. Aku bingung dan tak tau harus menjawab apa aku takut kalau aku menjawab aku beragama buddha lagi, ibu guru dan teman-temanku akan pergi. Setelah aku bertanya kepada ibu guru "ibu, agama itu apa? Mengapa kita haru memilih salah satunya? dan bagaimana cara kita memilih mana yang harus dipilih?" lalu ibu guru menjawab, " Agama itu adalah kepercayaan diri kita pada suatu keyakinan untuk diikuti ajarannya dan dijauhi larangannya. Dengan beragama Insya Allah kita akan menjadi orang yang lebih baik dan kelak akan masuk surga. Semua agama memiliki tujuan yang sama namun memiliki Tuhan yang berbeda dan cara berdoa yang berbeda." Ibu kembali bertanya beragama apakah aku. Aku yang masih bingung berkata tidak tau beragama apakah aku. Lalu ibu kembali bertanya, ingin mempelajari agama apakah aku. Aku kembali berfikir, lalu setelah beberapa detik aku berkata ingin mempelajari islam seperti yang dulu pernah diajarkan saudara laki-lakiku. Dan masuklah aku kedalam barisan agama islam dan masuk kedalam ruang kelas khusus agama islam untuk mengikuti pelajarannya. disana aku melihat saudara laki-lakiku sedang memanggilku untuk duduk disebelahnya, kami pun mengikuti pelajaran agama bersama-sama.
Beberapa hari kemudian ketika mama memeriksa buku sekolahku ia bingung melihat buku agamaku lalu bertanya kepadaku dan kukatakanlah kejadian di sekolah, keesokan harinya mamaku langsung mendatangi ibu guruku dan memintanya untuk memidahkan kelas agamaku. Ketika tiba pelajaran agama, ibu guru memindahkanku kedalam kelas beragama buddha tidak ada yang kukenal di dalam kelas tersebut. Orang-orangnya pun kurang bersahabat denganku, mereka menjauhiku. Setelah beberapa saat aku didalam kelas aku meminta izin keluar dan pergi ke kantor ruang guru untuk menemui wali kelasku. Aku meminta untuk kembali dipindahkan ke dalam kelas agama islam namun ibuku menolak. Aku pun bersikeras tidak ingin mengikuti pelajaran agama apabila tetap berada di kelas beragama buddha, lalu ibu guru menelpon orang tua ku dan berbicara mengenai kelas agama yang tidak mau aku ikuti, karena mata pelajaran agama merupakan salah satu pelajaran inti maka aku diharuskan mengikuti salah satu agama jika tidak ingin tinggal kelas. Ketika telpon diserahkan padaku, mama marah-marah karena aku tidak ingin mengikuti pelajaran agamanya dan menyuruhku memilih agama yang lain asalkan tidak mengikuti pelajaran agama islam. Akupun diantar ibu guru untuk memasuki salah satu ruang kelas agama. Selama perjalanan menuju ruang kelas aku kebingungan memilih kelas mana yang akan ku ikuti pelajarannya ketika aku bertanya kepada saudaraku ia berkata, pilihlah agama yang membuat mu nyaman dalam pelajarannya dan membuatmu tidak kesepian. Setelah berpikir kembali aku memutuskan untuk masuk ke dalam pelajaran agama Katolik karena didalam kelas tersebut guru pengajarnya jarang mengajar dan membebaskan muridnya untuk bermain asalkan sudah mencatat soal di papan tulis. Didalam kelas tersebut aku juga memiliki tiga orang teman yang selalu menemaniku bermain pada saat pelajaran agama.
Awalnya mereka menganggap diriku aneh karena aku selalu duduk diam sendiri menatap jendela namun ketika mereka mendatangiku dan mengajakku berteman aku mulai membuka diri dan sekedar duduk bersama mereka agar aku tidak dimarahi guru atau diejek teman lain karena tidak memiliki teman.
Beberapa waktu berlalu saudara laki-laki ku tetap datang untuk sekedar melihat keadaanku walaupun tidak sesering dulu. Kini aku duduk di kelas 4 SD aku mulai mengerti tentang perbedaan keturunan dan kasta yang ada didalam keluargaku. Begitu juga dengan perbedaan-perbedaan agama. Selama aku mengikuti pelajaran agama buddha yang di ajarkan orang tuaku, pelajaran katolik yang diajarkan oleh guruku, pelajaran hindu dan kristen yang kupelajari melalui guru-guru pengajar ku di sekolah aku tetap saja merasa bingung dan tidak tau harus memilih agama apa bagiku Tuhan itu cuma satu dan tidak ada agama yang mengajarkan keburukan jadi aku tidak mempermasalahkan agama mana yang harus ku anut. Aku mengikuti semua agama dan hanya mengambil apa yang dapat diterima akal sehatku. Ketika orang bertanya apa agama ku, aku selalu menjawab aku beragama pancasila seperti semboyan negara yang ku pelajari dalam pelajaran PPKN yaitu pancasila yang belambangkan burung garuda yang memegan pita bertuliskan "Bhineka Tunggal Ika" yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Bagiku semua sama tidak ada perbedaan kasta, agama, atau keturunan. Orang-orang seing mengatai ku tidak beragama atau Atheis namun aku tidak menghiraukan perkataan mereka. Seiring aku bertambah dewasa intensitasku dalam bertemu dengan saudaraku pun semakin berkurang namun aku tidak merasa kesepian lagi karena aku sudah mulai terbiasa sendiri. Aku pun mulai terbiasa dengan kesendirianku dan dengan perkelahian-perkelahian kecil orang tuaku. Hingga aku berusia 17th itu kala terakhirku bertemu muka dengan saudara laki-lakiku.

Sabtu, 06 Juli 2013

tentang blog amatir ^^

here i'm!!
Ini blog pertama yang aku buat untuk berbagi cerita dan berbagi nasihat (kalo berminat ngasih nasihat.. heheheheehe....)
Tujuanku membuat blog ini karena aku sering merasa sepi dan tidak ada tempat mencurahkan isi hatiku, berbagi cerita, berbagi suka-duka (kebanyakan dukanya sih..)  selain berdoa kepadaNYA.
Di dalam blog ini terbuka bagi siapa aja yang berminat yang ingin berbagi cerita dan bertukar pikiran kalau kalian berkenan dan merasa lebih nyaman berbicara dengan sahabat-sahabat dunia maya.
(Yang pasti sahabat yang selalu ada n ga pernah ninggalin kita yang selalu bersama kita dan ga bole kita lupain adalah Sang pencipta alam semesta beserta isinya ini.. don't ever forget about it!)

So,,, yuk marii sista-sista and brota-brota yang berkenan dengan blog ini mari kita bebagi bersama>>
^^